Minggu, 01 Mei 2011

Alternatif Beberapa Media Agar Terbaik

Semua media dibawah ini memiliki pH hampir netral dan harus disterilkan selama 20-30 menit pada tekanan 15 psi. Dari 500 ml media agar akan menghasilkan sekitar 20 petridish. Variasi media diperlukan untuk menghindari keterbatasan bahan-bahan media F0 dan juga dapat digunakan untuk meningkatkan kualitas bibit  turunan yang dihasilkan.


Malt Extract Agar (MEA) 
10 gram tepung gandum
9 gram agar-agar 
500 ml air suling

Potato Dextrose (Yeast-ekstrak) Agar (PD (Y) A) 
Rebus 150 gram kentang iris dalam 500ml air selama 30 menit, (Anda dapat menggunakan 5 gram keripik kentang instan sebagai gantinya) lalu ambil airnya.
10 gram agar-agar 
7 gram dextrose (= glukosa, dapat diganti dengan 10 ml madu atau sirup jagung) 
1 gram ragi bir atau ragi-ekstrak (opsional)
500 ml air suling (ditambahkan di akhir)

Amaranth Soy Agar 
20 gram tepung bayam 
20 gram tepung kedelai 
9 gram agar-agar 
500 ml air suling

EntheoGenesis No.442 
10 gram tepung bayam 
10 gram tepung beras merah 
10 gram tepung kentang 
10 gram tepung kedelai 
2 gram tepung gandum
9 gram agar-agar 
500 ml air suling

Oatmeal Neopeptone Agar 
40 gram tepung oatmeal atau gandum 
2 gram neopeptone (opsional) 
9 gram agar-agar 
500 ml air suling
 
Cornmeal Dextrose Agar
25 gram tepung jagung
3 gram dekstrosa 
9 gram agar-agar
500 ml air suling

Barley Malt Extract Agar 
40 gram tepung gandum
2 gram ekstrak malt 
1 gram ekstrak ragi (opsional) 
9 gram agar-agar 
500 ml air suling

Modifikasi Dr Pollock Agar
10 gram kering makanan anjing (tanah untuk tepung) 
10 gram tepung bayam 
2 gram dekstrosa atau ekstrak malt 
9 gram agar-agar 
500 ml air suling

Kamis, 27 Januari 2011

Jenis-jenis hama dan penyakit pada jamur serta metode pencegahannya

Penyakit dan hama sering timbul karena kurangnya ketelitian dan kehati-hatian dalam melakukan penanganan produksi salah satunya proses pemeliharaan. Hal tersebut menimbulkan pekerjaan baru karena penyakit dan hama yang menyerang harus segera ditangani. Bagi sebagian orang, cara yang paling mudah untuk mengatasinya adalah dengan menggunakan fungisida, insektisida dan bahan kimia lainnya. Namun, penggunaan bahan-bahan kimia ternyata menimbulkan permasalahan baru, tanaman dalam hal ini jamur tiram menjadi tercemar bahan kimia dan tidak sehat untuk dikonsumsi sehingga dapat menurunkan harga jual. Cara yang paling tepat untuk mengatasi penyakit dan hama adalah dengan metode pencegahan, karena mencegah lebih baik daripada mengobati..
Sebelum memahami hal-hal apa saja yang diperlukan dalam pencegahan, terlebih dahulu diperlukan pengetahuan mengenai bagaimana penyakit dan hama dapat menyebar. Ada 5 cara/media utama yang dapat menyebabkan timbulnya hama dan penyakit :
1. Udara
2. Air
3. Tanah
4. Manusia
5. Bibit
Hama dan penyakit seperti spora jamur pengkontaminasi, bakteri pengganggu, ataupun virus dapat menyebar dengan mudah melalui aliran udara. Bahkan hama serangga dapat menyebar dengan cara terbang melawan aliran udara. Demikian pula dengan air, tanah, manusia, dan bibit dapat membawa sumber penyakit yang sama seperti udara.
Pengetahuan mengenai sumber timbulnya hama dan penyakit merupakan bagian penting dalam proses pencegahan. Oleh karena itu, kunci pencegahan timbulnya berbagai macam penyakit dan hama adalah dengan menjaga kebersihan dan sanitasi.
Ada 5 poin yang harus diperhatikan dalam menjaga kebersihan:
1. Kelancaran sirkulasi udara
2. Kebersihan air
3. Pasteurisasi yang sempurna dan steril
4. Kebersihan pekerja
5. Kebersihan lingkungan baik di dalam maupun di sekitar kumbung
Jenis-jenis hama dan penyakit yang dapat mengganggu pertumbuhan jamur tiram diantaranya serangga, laba-laba, cacing, siput, rayap, jamur parasit dan saprofit, serta bakteri dan virus. Berikut cara pencegahannya :

1. Mycogone perniciosa (Wet Bubble/White Mold)

 Dalam bahasa Yunani Myco - «jamur», dan akhiran «gone» berarti tubuh reproduksi.
Mycogone Perniciosa membentuk dua jenis spora:

* conidiospores (uniseluler, spora berdinding tipis, dengan kehidupan yang relatif singkat, sangat ringan, oleh karena itu, mereka dapat dibawa oleh angin);
* chlamydospores (terdiri dari dua sel, berdinding tebal, spora cokelat, yang hidup beberapa tahun).

Jamur yang telah terkena penyakit ini pada tahap awal berubah menjadi tak berbentuk, tertutup miselium parasit putih dan mengembang. Sebagai jamur cacat berkembang, menjadi coklat dan mulai membusuk. Karena pembusukan yang berair dan bentuk yang terkena jamur, penyakit ini dinamakan « Wet Bubble ». Selain itu, cairan warna kuning muncul di permukaan jaringan jamur, terutama pada tingkat kelembaban yang sangat tinggi. Pada tahap ini, jamur mulai membusuk dan yang disertai dengan bau yang menyengat.
Jamur yang sakit harus dibersihkan dengan sangat hati-hati. Rekomendasi penanganan adalah sebagai berikut:

* Memanen jamur yang sakit dengan sendok, menurunkan baglog jamur ke dalam larutan sulfat tembaga dan disinfeksi sendok setelah menghilangkan penyakit;
* Menaburi baglog jamur dengan garam
* Daerah sekitar baglog yang terinfeksi disiram dengan larutan formalin dan kemudian ditaburi dengan kapur.


2. Pseudomonas tolaasii (Bacteriosis)

Para peneliti menemukan bahwa bakteri Pseudomonas tolaasii dapat bergerak melalui lapisan air menggunakan filamen. Jika ada tetesan air atau lapisan air di tudung jamur, nutrisi melarikan diri dari jaringan jamur ke dalam air, yang memberikan bakteri kesempatan untuk bereproduksi di daerah itu. Jumlah bakteri berlipat ganda dalam waktu kurang dari satu jam. Gejala pertama dari bentuk penyakit ini adalah bintik kuning-coklat.


Pada beberapa pembudidaya, bacteriosis merupakan penyakit epidemi (penyakit konstan). Bakteri dapat bertahan pada berbagai permukaan, di limbah, air, dan pada peralatan. Bila satu infeksi hadir, bakteri mudah berpindah dari ruang ke ruang lain melalui tangan pemetik jamur dan benda-benda lain yang dibawa pada kumbung. Lalat dan tungau juga bisa menyebarkan penyakit ini.
bercak bakteri biasanya muncul pada akhir siklus budidaya, ketika ventilasi kurang dan jamur yang tidak dirawat dengan cukup baik.
Dari semuanya yang disebutkan di atas, kesimpulan yang dapat dibuat adalah menciptakan kondisi iklim yang tepat. Kelembaban relatif tinggi (di atas 85%) dan suhu lebih tinggi dari 20 ° C menyebabkan munculnya gejala penyakit. Tetesan air setelah penyiraman atau kondensasi yang telah terbentuk pada jamur harus kering dalam waktu 2-3 jam. Untuk hal ini, ventilasi udara harus aktif dan sirkulasi udara yang digunakan harus baik. Di sini, penting untuk memastikan bahwa jamur tidak menjadi pecah-pecah dan bersisik.

Beberapa penulis menyarankan penyiraman jamur dengan air keran (125 ml 10% klor untuk 100 l air per 100 m²) sebelum panen pertama, ketika ukuran pin antara 4-5 mm, atau menggunakan larutan klorin 10% / 100 l / 100 m².

Penyakit ini dapat dicegah jika sanitasi dan kebersihan kumbung baik.
 
3. Pythium oligandrum, Pythium hydnosporum

Sebuah kandungan tinggi nitrogen ditemukan di daerah kompos yang terinfeksi dengan mold hitam. Para ilmuwan menganggap bahwa hal ini terjadi karena tidak meratanya distribusi suplemen nitrogen dalam kompos. Tapi itu belum jelas apakah daerah-daerah dengan kandungan tinggi nitrogen menahan pertumbuhan miselium atau merangsang pertumbuhan Pythium. Yang jelas, terlalu tingginya NH3 (Amonia) dapat membunuh miselium jamur.

Faktor lain yang menguntungkan bagi keadaan ini adalah kelembaban kompos yang terlalu berlebihan.

Kesimpulan berikut dapat dibuat dari penjelasan di atas, untuk menghindari penyebaran jamur Pythium, perlu untuk:

* Hindari kontak baglog melalui tanah. Kumpulan baglog harus disimpan pada platform beton minimal lantai semen;
* Perhatikan kebersihan ruangan pada saat dipasteurisasi dan inkubasi;
* Mendistribusikan suplemen nitrogen dalam serbuk gergaji seragam mungkin;
* Menjaga kelembaban serbuk gergaji.


4. Hypomyces rosellus (Cladobotryum dendroides, Daktylium dendroides) Cobweb Mold

Kelembaban yang relatif tinggi dan suhu udara tinggi setelah pencampuran media merangsang perkembangan Dactylium.

Dalam literatur, ukuran kontrol berikut dapat ditemukan:

* Menaburi/membunuh jamur cobweb dengan garam dan baking soda, atau menyemprot daerah yang rusak dengan (40%) larutan formalin, dan segera menaburi dengan tanah kapur.
* Kelembaban relatif dan temperatur udara harus dipertahankan.
* Pemindahan infeksi jamur sehat harus dihindari, dengan gerakan terorganisir pemetik jamur.
* Tunduk oleh aturan sanitasi dan kebersihan di kumbung secara keseluruhan.


5. Green Mold (Trichoderma, Aspergillus, Penicillium, Cladosporium)




Spora dari jamur ini secara luas tersebar di lapisan luar media dan bahan organik di berbagai lingkungan. Mereka dapat dengan mudah dibawa oleh angin, serangga atau tungau, manusia pada peralatan yang digunakan untuk budidaya jamur. Tikus yang memakan miselium pada permukaan serbuk juga dapat membawa penyakit ini.


jamur ini dapat tumbuh pada peralatan kayu, dalam media serbuk kayu, di lapisan luar media, dan bahkan di butir miselium yang kurang siap/belum penuh. Ciri-ciri kontaminasi jamur ini yakni tumbuhnya bintik atau noda hijau. Suhu ideal bagi jamur ini adalah sekitar 22-26oC.
Langkah untuk menghindari kontaminasi jamur ini yakni:
• Membuang media baglog yang terinfeksi
• Desinfeksi pekerja dan alat-alat sebelum masuk kumbung
• Jangan bicara sewaktu inokulasi
• Jangan meletakkan langsung baglog pada tanah


6. Coprinus Spp. (Ink Cap Fungi)


Coprinus menunjukkan adanya amonia bebas atau tingginya kandungan nitrogen dalam kompos. Munculnya jamur topi /tinta di ruang tumbuh menunjukkan rendahnya kualitas substrat akibat gangguan fermentasi dan proses pasteurisasi substrat itu.

Ada beberapa alasan:

* Penggunaan bahan baku yang buruk: pupuk kadaluarsa, atau pupuk kandang yang telah menjadi benar-benar kering setelah pemanasan, dan juga jerami/serbuk kayu yang membusuk dan terlalu tua.
* Penggunaan jumlah kelebihan kotoran unggas selama proses pengomposan (atau kumbung yang digunakan adalag bekas kandang unggas).
* Proses pasteurisasi yang kurang optimal.


7. Mucor spp.


Kontaminasi Mucor ditandai dengan timbulnya noda hitam pada permukaan media baglog. Kontaminasi ini menyebabkan adanya persaingan pertumbuhan Mucor dengan miselium jamur tiram. Pencegahan dapat dilakukan dengan mengurangi jumlah susunan baglog jamur dan mengatur /menurunkan suhu ruangan dengan membuka dan mengatur sirkulasi udara.


8. Neurospora spp


Neurospora dapat menghambat pertumbuhan miselium dan tubuh buah. Neurospora menimbulkan tepung “orange” pada permukaan kapas penyumbat baglog. Pencegahan dilakukan dengan melakukan sterilisasi media baglog dengan sempurna dan mengurangi jumlah susunan baglog jamur.

Media Baglog (Non-Sterile Method)

Sebelumnya marilah kita kembali ke masa SMA, saat kita sama-sama mengenyam pedasnya pelajaran KIMIA... namun bukan berarti kita meninggalkan konsep organik kita. Kita tetap memerlukan bahan kimia dalam proses sterilisasi. Salah satunya yakni Hidrogen Peroksida (H2O2).


Hidrogen peroksida dengan rumus kimia H2O2 ditemukan oleh Louis Jacques Thenard di tahun 1818. Senyawa ini merupakan bahan kimia anorganik yang memiliki sifat oksidator kuat. Bahan baku pembuatan hidrogen peroksida adalah gas hidrogen (H2) dan gas oksigen (O2). Teknologi yang banyak digunakan di dalam industri hidrogen peroksida adalah auto oksidasi Anthraquinone.

H2O2 tidak berwarna, berbau khas agak keasaman, dan larut dengan baik dalam air. Dalam kondisi normal (kondisi ambient), hidrogen peroksida sangat stabil dengan laju dekomposisi kira-kira kurang dari 1% per tahun.

Mayoritas pengunaan hidrogen peroksida adalah dengan memanfaatkan dan merekayasa reaksi dekomposisinya, yang intinya menghasilkan oksigen. Pada tahap produksi hidrogen peroksida, bahan stabilizer kimia biasanya ditambahkan dengan maksud untuk menghambat laju dekomposisinya. Termasuk dekomposisi yang terjadi selama produk hidrogen peroksida dalam penyimpanan. Selain menghasilkan oksigen, reaksi dekomposisi hidrogen peroksida juga menghasilkan air (H2O) dan panas. Reaksi dekomposisi eksotermis yang terjadi adalah sebagai berikut:

H2O2 -> H2O + 1/2O2 + 23.45 kcal/mol

Faktor-faktor yang mempengaruhi reaksi dekomposisi hidrogen peroksida adalah:

1. Bahan organik tertentu, seperti alkohol dan bensin
2. Katalis, seperti Pd, Fe, Cu, Ni, Cr, Pb, Mn
3. Temperatur, laju reaksi dekomposisi hidrogen peroksida naik sebesar 2.2 x setiap kenaikan 10oC (dalam range temperatur 20-100oC)
4. Permukaan container yang tidak rata (active surface)
5. Padatan yang tersuspensi, seperti partikel debu atau pengotor lainnya
6. Makin tinggi pH (makin basa) laju dekomposisi semakin tinggi
7. Radiasi, terutama radiasi dari sinar dengan panjang gelombang yang pendek

Hidrogen peroksida bisa digunakan sebagai zat pengelantang atau bleaching agent pada industri pulp, kertas, dan tekstil. Senyawa ini juga biasa dipakai pada proses pengolahan limbah cair, industri kimia, pembuatan deterjen, makanan dan minuman, medis, serta industri elektronika (pembuatan PCB).

Salah satu keunggulan hidrogen peroksida dibandingkan dengan oksidator yang lain adalah sifatnya yang ramah lingkungan karena tidak meninggalkan residu yang berbahaya. Kekuatan oksidatornya pun dapat diatur sesuai dengan kebutuhan. Sebagai contoh dalam industri pulp dan kertas, penggunaan hidrogen peroksida biasanya dikombinasikan dengan NaOH atau soda api. Semakin basa, maka laju dekomposisi hidrogen peroksida pun semakin tinggi. Kebutuhan industri akan hidrogen peroksida terus meningkat dari tahun ke tahun. Walaupun saat ini di Indonesia sudah terdapat beberapa pabrik penghasil hidrogen peroksida seperti PT Peroksida Indonesia Pratama, PT Degussa Peroxide Indonesia, dan PT Samator Inti Peroksida, tetapi kebutuhan di dalam negeri masih tetap harus diimpor.


Jadi, mengapa Hidrogen Peroksida?
Hidrogen peroksida menyederhanakan seluruh proses tumbuh jamur. Tidak perlu untuk membangun laboratorium steril, membeli pressure cooker raksasa, atau bahkan membangun kotak entkas. Sebuah konsentrasi rendah dari peroksida akan membunuh seluruh kontaminan, sementara memungkinkan pertumbuhan yang sehat dari jaringan jamur.

Bagaimana caranya?
Cukup siapkan bahan-bahan seperti layaknya membuat baglog, akan tetapi tambahkan HP (Hidrogen Peroksida) 3% dan alat tambahan berupa sarung tangan latex serta balon udara kecil.

campurkan adonan seperti biasa sambil lalu panaskan air hingga 65 derajat C. Setiap 1 liter air, ditambah dengan 6-10ml HP konsentrasi 3% kedalamnya. Selanjutnya larutan ini diberi nama HP Water.
Setelah campuran merata, tambahkan HP Water kedalam adonan hingga didapatkan kepadatan yang diinginkan, yakni adonan mudah dikepal dan tidak sampai menetes.
Adonan siap dimasukkan kedalam plastik PP dan siap di pasteurisasi (bukan sterilisasi). Selanjutnya langkah inokulasi sama dengan langkah sebelumnya dalam membuat baglog.
Lalu apa fungsi balon udara? fungsinya hanya mengetes kadar konsentrasi HP Water tadi. caranya masukkan HP Water kedalam tabung reaksi, setelah itu tutup dengan balon udara, jika balon mengembang kecil berarti konsentrasi campuran sudah benar, jika tidak sama sekali berarti kurang, dan apabila terlalu besar berarti terlalu banyak atau campuran belum merata.

Sebenarnya, tanpa pasteurisasipun media sudah steril. Karena HP Water akan membunuh seluruh mikroorganisme pengganggu. Sayapun melakukannya demikian dengan memasukkannya pada kantung plastik besar.
Panduan lengkap lihat http://www.youtube.com/watch?v=icmx2wzE7KM

Media Baglog (Sterile Method)

Pengolahan Media Tanam Jamur Tiram

Persiapan
Untuk 80 log diperlukan bahan-bahan seperti di bawah ini:
a) Serbuk gergaji/ ampas tebu/jerami cincang=100 kg
b) Tepung jagung=10 kg
c) Dedak halus=10-15 kg
d) Kapur (CaCO3)=1 kg
e) Non klorin Air=50-60%
f) Molase/gula=1 L
Opsional bahan pendukung lain seperti pupuk SP-36 (Agar tudung jamur lebih lebar, namun memiliki kekurangan badan jamur lebih berair dan mudah cepat busuk), biji-bijian, ZPT/Zat Pengatur Tumbuh yang didapat secara alami dari Air Kelapa (mineral yang terkandung sangat kompleks), Ekstrak taoge, media tambahan seperti kardus bekas, kapas, tisu toilet. Jangan gunakan gips (CaSO4) karena mengandung senyawa Sulfur/belerang, lebih baik gunakan mesin press sederhana kalau hanya untuk membuat media padat.

Bahan-bahan kecuali air dicampur merata
tambahkan air sampai media dapat dikepal tapi tidak sampai menetes.

Pembuatan Log
Media dimasukkan ke dalam kantong plastik tahan panas (polypropilene) kapasitas 1,5-2
kg sampai Media harus dipadatkan agar terbentuk log yang baik. Ikat
mulut plastik dengan karet tahan panas dan sterilkan.

Sterilisasi Log
Sterilisasi perlu dilakukan agar media bebas dari mikroba lainnya.
Terdapat dua cara sterilisasi yaitu:
a. Sterilisasi pada temperatur 100 derajat C selama 8 jam dengan
cara mengukus. Biasanya digunakan drum kapasitas 50 log yang
dipanaskan dengan kayu bakar atau LPG. Atau dengan menggunakan water tube boiler dan oven kapasitas 2000log. Biasanya dengan LPG 12kg, 1 kali proses menghabiskan setengah tabung.
b. Sterilisasi pada temperatur 121 derajat C selama 15 menit dengan
menggunakan autoklaf atau dandang bertekanan uap.

Teknik Penanaman
Penanaman Bibit
Buka bagian atas log yang telah disterilkan. Hamparkan 1-2 sendok
makan bibit jamur F2. Gunakan sendok yang telah dipanaskan di
atas api. Rapatkan kembali plastik bagian atas. Masukkan cincin berdiameter 3 cm dan tinggi 1 cm ke dalam plastik yang
dirapatkan tersebut. Isi lubang yang terbentuk dengan kapas. Tutup
kapas beserta cincin dengan kertas koran dan ikat. Ingat!! semua proses harus dilakukan diatas api bunsen, kalau tidak ingin terserang trichoderma dan teman-temannya.

Inkubasi Log
Log yang sudah ditanami bibit harus disimpan di tempat yang menunjang
pertumbuhan miselium dan tubuh buah. Masa penyimpanan log setelah
ditanami bibit ini dinamakan masa inkubasi. Pada masa ini suhu yang
diperlukan sekitar 22-26oC. Pada umumnya masa inkubasi untuk
penumbuhan miselium dari 0% hingga 100% adalah 30 hari.

Pemindahan log
Setelah miselium mencapai panjang kurang lebih 90% pada baglog,
pindahkan media log dari ruang inkubasi ke kumbung (mushroom house).
Tempat pemeliharaan jamur dibuat dengan ukuran 8 x 12 m2 yang di
dalamnya terdapat 8 buah petak pemeliharaan berukuran 5,7 x 2,15 m2.
Jarak antar petak 100 cm. Di dalam setiap petak dibuat rak-rak yang
tersusun ke atas untuk menyimpan 1.300-1.400 log. Rangka bangunan
dapat dibuat dari besi, kayu atau bambu.

Kondisi lingkungan yang harus diperhatikan dalam membuat bangunan
penyimpanan adalah:
a) Temperatur untuk pembentukan miselium adalah 22-26 derajat C
b) Temperatur untuk pembentukan tubuh buah adalah 10-15 derajat C
c) Kelembaban udara 90-96%
d) Kadar air log 35-45%
e) Udara di dalam tidak tercemari asap/gas kecuali CO2 (<1000 ppm).
Log disimpan di atas rak dengan posisi tegak atau miring. Jarak
penyimpanan diatur sedemikian rupa sehingga tubuh buah yang tumbuh
dari satu log tidak bertumpang tindih dengan tubuh buah yang lain.
Untuk efektifitas tempat, biasanya perletakan miring seperti gambar di
atas banyak dipilih. Selain itu dengan meletakkan miring, pertumbuhan
jamur tiram dapat dilakukan dari dua arah, dari depan dan dari belakang.
Setelah log selesai diletakkan pada rak-rak jamur. Langkah pengolahan
media tanam sudah selesai. Selanjutnya memasuki langkah
PEMELIHARAAN agar diperoleh hasil panen jamur tiram yang optimal.

Minggu, 02 Januari 2011

Tips Memilih Serbuk Kayu

Pertumbuhan jamur umumnya lebih cepat pada kayu lunak seperti sengon dan karet dibandingkan dengan pertumbuhan pada kayu keras seperti meranti dan johar. Perhatian!!! Jangan memakai jenis kayu bergetah seperti kayu jati, pinus, dan jenis kayu lain yang mengandung bahan pengawet alami (zat ekstraktif).

Jenis kayu yang direkomendasikan:
Rasamala (Altingia Sp.)
Saninten (Castanea Sp.)
Mundu (Garcinia Sp.)
Rejasa (Elaocarpus Sp.)
Bungur (Lagerstromia Sp.)
Pasang (Quercus Sp.)
Getah manis (Liquidambar Sp.)
Jenitri (Elaocarpus Sp.)
Chesnut (Castanopsis Sp.)
Sengon (Albasia Sp.)
Randu (Bombax Sp.)

Kamis, 30 Desember 2010

Inokulasi F2

Bibit F2 umur 1 hari
Bahan-bahan yang digunakan dalam media ini yakni:
1. Serbuk gergaji yang telah dicampur dengan kapur, bekatul, tepung jagung, gula (1kw serbuk gergaji ditambah 5kg kapur, 5kg bekatul, 15kg tepung jagung, gula 1kg) serta disiram air dengan campuran EM-4 hingga adonan mudah dikepal serta tidak hancur kemudian sudah difermentasi selama 7 hari. Selama 7 hari adonan dibolak-balik tiap 2 hari.
2. Botol bekas sambal ABC sebanyak 100 botol yang telah disterilisasi
3. Karet gelang, kapas, dan kertas koran
Cara:
1. Campuran media dimasukkan kedalam botol dan diberi sedikit ruang kira-kira sedalam jari kelingking
2. Steam media ke dalam autoclave selama 40 menit dengan suhu 120oC dan tekanan 1atm, biasanya 1 autoclave berisi 25-30botol jagung
3. Setelah sterilisasi selesai, masukkan media ke dalam entkas, media siap diinokulasikan
4. Siapkan media F1 (jagung) 1 botol saja kedalam entkas beserta botol calon bibit F2
5. Ambil 1 biji jagung pada F1 dengan pinset kemudian segera inokulasikan kedalam media F2, tutup dengan kapas dan kertas koran
6. Simpan media yang telah diinokulasikan kedalam inkubator dengan suhu kamar selama 20-30 hari
7. Setelah miselium menutupi media seluruhnya, selanjutnya tahap pembuatan F3 atau yang biasa kita kenal dengan baglog.

Inokulasi F1

Mempersiapkan bahan-bahan seperti: jagung yang sudah tua dan masih fresh from the oven alias baru petik, 20-30 botol bekas sambal ABC yang sudah steril, kapas, tali karet, dan kertas koran.

Cara:
1. Rendam jagung dalam air selama semalam
2. Keesokan harinya angkat dan tiriskan, lalu siapkan air untuk merebus jagung
3. Rebus jagung selama 1 jam, angkat dan tiriskan
4. Selanjutnya masukkan jagung kedalam botol, tutup dengan kapas
5. Media siap di pasteurisasi selama 40 menit dengan suhu 120oC dan tekanan 1atm
6. Masukkan media jagung tadi dalam entkas, eksplan siap diinokulasikan
7. Ambil bagian eksplan pada media F0 sebesar 1cm2
8. Masukkan kedalam media F1
9. Setelah botol terisi jagung, tutup dengan kapas dan bungkus dengan kertas koran
10. Media di simpan dalam inkubator dengan suhu kamar selama 20 hari

Perhatian!!! Semua kegiatan harus dilakukan di dalam entkas dan inokulasi dilakukan diatas api bunsen, sebelum memasuki entkas tangan harus steril dengan menyemprotkan alkohol 70%.
Pembibitan dikatakan berhasil bila miselium tumbuh secara merata keseluruh permukaan media tanpa ada noda selain warna putih seperti kapas. Masa inkubasi ini membutuhkan waktu sekitar 20-30 hari. Jika terlihat bintik hitam/kuning/hijau/coklat sedikit saja, dapat dikatakan bahwa percobaan kita gagal!!!

Inokulasi F0

1. Tahap awal sebelum inokulasi bibit, kita perlu mencari indukan jamur yang berkualitas, cuci bersih dengan campuran chlorin 5% dan aquades, selanjutnya ke dalam alkohol 70%. Perlu diketahui bahwa bakteri akan mati bila dilarutkan ke dalam alkohol 70% bukan 95%.
2. Iris jamur pada batangnya secara vertikal dan ambil bagian dalamnya menggunakan pinset.
3. Bagian jamur/eksplan tadi kita masukkan ke dalam media PDA yang sudah kita buat. Perhatian!!! Semua kegiatan harus dilakukan di dalam entkas dan inokulasi dilakukan diatas api bunsen, sebelum memasuki entkas tangan harus steril dengan menyemprotkan alkohol 70%.
4. Tutup botol dengan menggunakan kapas dan aluminium foil, ikat, serta simpan dalam inkubator (ruangan gelap dengan suhu kamar).

Pembibitan dikatakan berhasil bila miselium tumbuh secara merata keseluruh permukaan media tanpa ada noda selain warna putih seperti kapas. Masa inkubasi ini membutuhkan waktu sekitar 10-15 hari. Jika terlihat bintik hitam/kuning/hijau/coklat sedikit saja, dapat dikatakan bahwa percobaan kita gagal!!!
Namun jangan khawatir, karena dari 20 botol yang kita tanami eksplan, jika berhasil secara sempurna 1 botol saja, maka kita akan pensiun, betapa tidak??karena kita sudah bisa membuat 30.000 lebih baglog…Subhanallah Maha Besar Allah…

Membuat Media F0 (Farietal 0)

Bibit F0

 Untuk membuat media bibit F0 atau yang biasa disebut dengan media PDA (Potatoes Dextrose Agar), bahan-bahan yang kita perlukan adalah:
1. 200gr kentang, kupas lalu cuci hingga bersih serta potong dadu 1cm
2. 20gr Dextrose, beli di toko kimia (1kg = Rp.20.000)
3. 20gr Agar-agar bening (cap swallow, sriti, dsb.)
4. Aquades 2 liter
5. 20 botol bekas whisky




Caranya:
1. Rebus kentang dengan aquades selama 1jam atau kira-kira sampai airnya tersisa setengahnya (500ml). Angkat dan tiriskan.
2. Saring air rebusan kentang dengan penyaring khusus (diambil airnya saja), tambahkan aquades 500ml hingga air rebusan didapat 1 liter kembali, masukkan Dextrose serta agar-agar, aduk perlahan dengan kecepatan stabil sampai semua bahan tercampur.
3. Tuangkan media cair tadi kedalam 20 botol whisky steril, tutup dengan kapas dan aluminium foil.
4. Masukkan botol whisky ke dalam autoclave selama 40 menit pada suhu 120oC dan tekanan 1 atm.
5. Media yang telah dingin bisa langsung digunakan untuk inokulasi atau disimpan pada refrigerator paling lama 4 bulan.

Membuat Bibit

Tahap ini sebenarnya tidak membutuhkan biaya besar, kitapun memulainya dengan modal Rp.300.000. Hampir semua alatnya kita bisa membuatnya dengan sederhana, kecuali alat-alat tertentu yang memang butuh tingkat sterilisasi yang baik. Dalam hal ini kita hanya memerlukan entkas sederhana (kita membuatnya dari triplex melamin) ukuran 1m x 0,5m x 1m dengan bagian depan tertutup kaca 0,5cm serta bagian atas diberi lampu UV. Alat ini harus steril dan harus memiliki mesin penghisap dibagian atasnya agar udara yang tidak berguna dapat keluar dengan cepat dan ruanganpun menjadi steril.

Sebelum membuat bibit perlu kita siapkan botol bekas whisky dan sambal ABC secukupnya, di Malang botol bekas whisky Rp.100/botol, botol sambal ABC Rp.100/kg. Selanjutnya kita bersihkan seluruh kotoran yang ada dalam botol, jangan sampai ada yang tertinggal. Sambil menunggu botol selesai dibersihkan, kita didihkan air untuk kemudian digunakan merendam/menggodog botol, kurang lebih 30menit kita angkat dan tiriskan, simpan ke dalam entkas/ruang tertutup dan steril.

Langkah selanjutnya yakni mempersiapkan alat-alat yang harus ada didalam entkas, yakni: berbagai ukuran pinset, pipet, jarum suntik, skalpel, api bunsen+spiritus, kaca kecil alas memotong, kapas pembalut, alkohol 70% dan 95%, aquades, cairan chlorin (bayclin), karet gelang, potongan kertas koran, gelas ukur, botol bekas whisky, botol bekas sambal ABC. Hidupkan lampu UV beserta mesin penghisapnya…pembibitan siap!!

Membangun Kumbung jamur

Dalam hal ini tidak perlu terlalu besar, kita dapat membangun secara bertahap jika hasil yang dirasa kurang pas untuk membeli sebuah mobil pickup…he.he.he. Sebagai acuan, untuk membangun kumbung berkapasitas 2000 baglog, kita dapat mengoptimalkan ruang sebesar 4m x 5m dengan tinggi 5-6m. Triknya, kita hanya perlu membuat konstruksi rak setinggi 2,5m dengan jarak 0,5m antar raknya. Memang terlihat menyusahkan apabila kita panen nanti. Bila kepadatan baglog bagus kita dapat menyusunnya menjadi 4-5baglog, tetapi bila kurang kita dapat menyusunnya maksimal 3susun saja.

Bahan yang digunakan cukup mudah dan murah didapatkan, seperti bambu untuk penyangga dan dinding, atap dari daun tebu kering atau jerami padi, plastik bening (untuk jamur kompos), semen dan pasir untuk cor kaki-kaki bambu penyangga kumbung (digunakan agar semakin kokoh dan tidak dirambati semut atau hama pengganggu karena nantinya bisa kita beri oli bekas secukupnya.

Sirkulasi udara juga perlu diperhatikan, jangan terlalu banyak angin. Cahaya matahari pun terbatas, mungkin hanya masuk melalui sela-sela dinding/bilik bambu. Di bagian atap kita beri sedikit jendela modifikasi yang bisa kita buka dan tutup sebelum/setelah kita panen.

Persiapan Memulai Usaha

Lokasi Usaha

Lokasi yang ideal adalah yang hampir mirip dengan kondisi tempat hidup jamur di alam. Hal-hal yang perlu diperhatikan dalam menentukan lokasi yang ideal:
1. Suhu udara. Berdasarkan kemampuan menyesuaikan pada suhu, jamur terbagi dalam tiga golongan, yaitu psikofilik, mesofilik, dan termofilik.
Golongan psikofilik 0o-30oC
Golongan mesofilik 25o-37oC
Golongan termofilik 40o-75oC
2. Kelembaban udara. Tubuh jamur mengandung banyak air sekitar 80%, oleh karenanya kita harus menjaga kelembaban udara didalam ruangan agar tercapai pertumbuhan yang optimum misalnya dengan menyemprot air ke dasar lantai pasir atau kedinding kumbung.
3. Senyawa beracun. Hindari kontaminasi logam berat terutama raksa, timbal, tembaga, perak, seng, dan litium karena berpotensi menghambat hormon pertumbuhan.
4. Radiasi. Gelombang pendek seperti sinar UV, IR, dan Gamma mempunyai daya rusak tinggi. Oleh karenanya hindari kontak langsung dengan cahaya matahari. Cahaya maksimal yang dianjurkan ialah setara 500-2000lux atau lampu sunlight 60W.
5. Tumbuhan peneduh. Hal ini tidak harus menjadi syarat untuk menentukan lokasi apabila kita bisa memanipulasi kumbung kita, seperti menjaga kelembaban. Trik yang kita gunakan dalam hal menjaga kelembaban yakni menutup dinding kumbung dengan karung goni, setelah itu pasangkan pipa air kecil (diberi lubang sebesar paku setiap 10cm) diatas karung goni mengelilingi seluruh dinding. Saat udara panas atau kelembaban rendah, kita tinggal semprot karung goni dengan menghidupkan kran air. Cara ini terbukti ampuh!!

TipsKita

Tips menjalankan home industry jamur untuk mendapatkan keuntungan optimal!!!

1. Kuasai proses dari segala segmen usaha jamur
2. Kuasai teknis budidaya
3. Bila perlu belajar kepada yang telah berhasil
4. Belajar teliti dan bersabar (hanya perlu mengulang pelajaran biologi masa-masa SMA IPA)
5. Potong semua rantai kegiatan industri yang berpotensi menambah biaya (Overhead Cost)
6. Optimalkan barang bekas
7. Jalin kerjasama dengan pembudidaya jamur lain, kontrak bila perlu

Tentang Jamur

Jamur adalah tumbuhan tingkat rendah yang tidak berklorofil sehingga dalam memenuhi kebutuhan pangannya sangat bergantung dari luar, misalnya sebagai saprofitik atau parasitik. Sebagai saprofit, jamur dapat hidup pada sisa makhluk hidup yang telah mati seperti sampah, tumbuhan, atau kotoran hewan. Sementara sebagai parasit, jamur hidup menempel pada organisme hidup lain dan biasanya bersifat parasit.
Jamur memiliki beberapa bentuk variasi, mulai dari bersel tunggal (ragi tape), bentuk serat atau miselia (jamur tempe), bentuk tubuh buah (jamur merang, shiitake, lingzhe, atau champignon), bentuk bilah, bunga karang, payung (jamur tiram), serta bentuk bergelambir tidak beraturan (jamur kuping).
Berdasarkan tempat hidupnya, jamur dibagi menjadi 2 tempat, yakni jamur kayu dan jamur kompos.
1. Jamur Kayu

Jamur Tiram (Pleurotus Sp.), dikenal dengan sebutan oyster mushroom. Bentuk tudung jamur ini menyerupai cangkang tiram sejenis kerang dengan bagian tepi bergelombang. Jamur ini merupakan komoditi yang sangat digemari dan paling banyak dibudidayakan.

Jamur Shiitake (Lentinus Sp.), biasa dikenal dengan hioko atau chinnese black mushroom. Jamur ini mudah dibudidayakan karena dapat tumbuh di kayu gelondongan atau serbuk gergaji. Jamur shiitake dapat dikonsumsi sebagai sayuran mentah/lalapan atau dimasak.

Jamur Kuping (Auricularia Sp.), kandungan protein, vitamin, dan mineralnya cukup tinggi dan tidak mengandung kolesterol. Termasuk jenis jamur yang cukup mudah untuk mudah dibudidayakan dan dapat disimpan dalam kondisi kering.

Jamur Lingzhi (Ganoderma Sp.), jamur ini lebih dikenal sebagai jamur obat. Cina, sebagai negara yang terkenal dengan pengobatan herbalnya kerap menggunakannya sebagai ramuan obat. Oleh karena itu, tak heran bila di Cina mudah dijumpai jamur ini dalam bentuk serpihan atau bubuk yang dapat diseduh dan dikonsumsi sebagai the atau kopi.

Jamur Maitake (Grifola Sp.), seperti halnya jamur lingzhi, jamur maitake juga termasuk jamur yang berkhasiat obat dengan sebutan hens of the wood atau “ayam betina dari kayu”. Hal ini karena jamur maitake memiliki bentuk seperti jengger ayam. Ukuran jamur ini bisa sebesar bola basket.

2. Jamur Kompos

Jamur Merang (Volvariella Sp.), biasa dikenal dengan nama paddy straw mushroom. Pertama kali dibudidayakan di Cina pada tahun 1650. Jamur merang awalnya berbentuk seperti telur yang dilapisi selubung atau kulit jamur, kemudian bentuk batang bagian bawahnya berkembang menyerupai cawan, umumnya jamur merang berwarna putih kecoklatan, tetapi ada juga yang berwarna lebih gelap.

Jamur Champignon (Agaricus Sp.), biasa juga disebut button mushroom atau jamur kancing. Jamur ini pertama kali dibudidayakan di Perancis, yakni sekitar tahun 1975. Secara anatomis, bentuknya hampir sama dengan jamur merang, namun batang bawahnya berbentuk menyerupai cincin. Jamur kancing berwarna putih bersih dengan spora yang juga berwarna putih.

Kamis, 23 Desember 2010

Alat-alat Laboratorium Kultur Jaringan

1.Laminar Air Flow Cabinet
 

 















2.Entkas

 











3.Rotating Shaker















4.Autoclaf

 













5.Timbangan Analitik






 










6.Stirer


 










 
7.Centrifuge

 














8.Erlenmeyer

 












9.Gelas Ukur

 
















10.Gelas Piala


 













11.Petridish


 








12.Jarum Injeksi, Pipet, dan Spatula

 



















13.Pinset dan Skalpel

 


















14.Bunsen, Box alkohol, dan hand sprayer

 






















15.Tabung reaksi dan Corong


 













16.Refrigerator/kulkas

 











17.Almari Planlet

Tahapan Kultur Jaringan

Tahapan yang dilakukan dalam perbanyakan tanaman dengan teknik kultur jaringan adalah:
1)    Pembuatan media
2)    Inisiasi
3)    Sterilisasi
4)    Multiplikasi
5)    Pengakaran
6)    Aklimatisasi
Media merupakan faktor penentu dalam perbanyakan dengan kultur jaringan.  Komposisi media yang digunakan tergantung dengan jenis tanaman yang akan diperbanyak. Media yang digunakan biasanya terdiri dari garam mineral, vitamin, dan hormon.  Selain itu, diperlukan juga bahan tambahan seperti agar, gula, dan lain-lain.  Zat pengatur tumbuh (hormon) yang ditambahkan juga bervariasi, baik jenisnya maupun jumlahnya, tergantung dengan tujuan dari kultur jaringan yang dilakukan.  Media yang sudah jadi ditempatkan pada tabung reaksi atau botol-botol kaca.  Media yang digunakan juga harus disterilkan dengan cara memanaskannya dengan autoklaf.
Inisiasi adalah pengambilan eksplan dari bagian tanaman yang akan dikulturkan. Bagian tanaman yang sering digunakan untuk kegiatan kultur jaringan adalah tunas. 
Sterilisasi adalah bahwa segala kegiatan dalam kultur jaringan harus dilakukan di tempat yang steril, yaitu di laminar flow dan menggunakan alat-alat yang juga steril. Sterilisasi juga dilakukan terhadap peralatan, yaitu menggunakan etanol yang disemprotkan secara merata pada peralatan yang digunakan.  Teknisi yang melakukan kultur jaringan juga harus steril.  
Multiplikasi adalah kegiatan memperbanyak calon tanaman dengan menanam eksplan pada media. Kegiatan ini dilakukan di laminar flow untuk menghindari adanya kontaminasi yang menyebabkan gagalnya pertumbuhan eksplan.  Tabung reaksi yang telah ditanami ekplan diletakkan pada rak-rak dan ditempatkan di tempat yang steril dengan suhu kamar.
Pengakaran adalah fase dimana eksplan akan menunjukkan adanya pertumbuhan akar yang menandai bahwa proses kultur jaringan yang dilakukan mulai berjalan dengan baik.  Pengamatan dilakukan setiap hari untuk melihat pertumbuhan dan perkembangan akar serta untuk melihat adanya kontaminasi oleh bakteri ataupun jamur. Eksplan yang terkontaminasi akan menunjukkan gejala seperti berwarna putih atau biru (disebabkan jamur) atau busuk (disebabkan bakteri). 
Aklimatisasi adalah kegiatan memindahkan eksplan keluar dari ruangan aseptic ke bedeng. Pemindahan dilakukan secara hati-hati dan bertahap, yaitu dengan memberikan sungkup. Sungkup digunakan untuk melindungi bibit dari udara luar dan serangan hama penyakit karena bibit hasil kultur jaringan sangat rentan terhadap serangan hama penyakit dan udara luar. Setelah bibit mampu beradaptasi dengan lingkungan barunya maka secara bertahap sungkup dilepaskan dan pemeliharaan bibit dilakukan dengan cara yang sama dengan pemeliharaan bibit generatif. 
Keunggulan inilah yang menarik bagi produsen bibit untuk mulai mengembangkan usaha kultur jaringan ini. Saat ini sudah terdapat beberapa tanaman kehutanan yang dikembangbiakkan dengan teknik kultur jaringan, antara lain adalah: jati, sengon, akasia, dll.

Metode

Metode perbanyakan tanaman secara in vitro dapat dilakukan melalui tiga cara, yaitu melalui perbanyakan tunas dari mata tunas apikal, melalui pembentukan tunas adventif, dan embriogenesis somatik, baik secara langsung maupun melalui tahap pembentukan kalus. Ada beberapa tipe jaringan yang digunakan sebagai eksplan dalam pengerjaan kultur jaringan. Pertama adalah jaringan muda yang belum mengalami diferensiasi dan masih aktif membelah (meristematik) sehingga memiliki kemampuan regenerasi yang tinggi. Jaringan tipe pertama ini biasa ditemukan pada tunas apikal, tunas aksiler, bagian tepi daun, ujung akar, maupun kambium batang. Tipe jaringan yang kedua adalah jaringan parenkima, yaitu jaringan penyusun tanaman muda yang sudah mengalami diferensiasi dan menjalankan fungsinya. Contoh jaringan tersebut adalah jaringan daun yang sudah berfotosintesis dan jaringan batang atau akar yang berfungsi sebagai tempat cadangan makanan.

Pengertian Kultur Jaringan

Kultur jaringan dalam bahasa asing disebut sebagai tissue culture, weefsel cultuus atau gewebe kultur. Kultur berarti budidaya, sedangkan jaringan adalah sekelompok sel yang mempunyai bentuk dan fungi yang sama. Maka, kultur jaringan atau budidaya jaringan adalah suatu metode untuk mengisolasi bagian dari tanaman seperti sekelompok sel atau jaringan yang ditumbuhkan dengan kondisi aseptik, sehingga bagian tanaman tersebut dapat memperbanyak diri tumbuh menjadi tanaman lengkap kembali.

Media Kultur Jaringan

Ada dua penggolongan media tumbuh: media padat dan media cair. Media padat pada umumnya berupa padatan gel, seperti agar, dimana nutrisi dicampurkan pada agar. Media cair adalah nutrisi yang dilarutkan di air. Media cair dapat bersifat tenang atau dalam kondisi selalu bergerak, tergantung kebutuhan. Komposisi media yang digunakan dalam kultur jaringan dapat berbeda komposisinya. Perbedaan komposisi media dapat mengakibatkan perbedaan pertumbuhan dan perkembangan eksplan yang ditumbuhkan secara in vitro. Media Murashige dan Skoog (MS) sering digunakan karena cukup memenuhi unsur hara makro, mikro dan vitamin untuk pertumbuhan tanaman.
Nutrien yang tersedia di media berguna untuk metabolisme, dan vitamin pada media dibutuhkan oleh organisme dalam jumlah sedikit untuk regulasi. Pada media MS, tidak terdapat zat pengatur tumbuh (ZPT) oleh karena itu ZPT ditambahkan pada media (eksogen). ZPT atau hormon tumbuhan berpengaruh pada pertumbuhan dan perkembangan tanaman. Interaksi dan keseimbangan antara ZPT yang diberikan dalam media (eksogen) dan yang diproduksi oleh sel secara endogen menentukan arah perkembangan suatu kultur.
Penambahan hormon tumbuhan atau zat pengatur tumbuh pada jaringan parenkim dapat mengembalikan jaringan ini menjadi meristematik kembali dan berkembang menjadi jaringan adventif tempat pucuk, tunas, akar maupun daun pada lokasi yang tidak semestinya. Proses ini dikenal dengan peristiwa dediferensiasi. Dediferensiasi ditandai dengan peningkatan aktivitas pembelahan, pembesaran sel, dan perkembangan jaringan.

Macam-macam Kultur Jaringan

1.Meristem Culture
Budidaya jaringan dengan menggunakan eksplan dari jaringan muda atau meristem.

2.Pollen Culture/Anther Culture
Budidaya jaringan dengan menggunakan eksplan dari pollen atau benang sari.

3.Protoplast Culture
Budidaya jaringan dengan menggunakan eksplan dari protoplas. Protoplas adalah sel hidup yang telah dihilangkan dindingnya.

4.Chloroplast Culture
Budidaya jaringan dengan menggunakan kloroplas untuk keperluan fusi protoplas (memperbaiki sifat tanaman dengan membuat varietas baru).

5.Somatic Cross/Fusi Protoplas
Budidaya jaringan dengan menyilangkan dua macam protoplas menjadi satu, kemudian dibudidayakan sampai menjadi tanaman kecil yang mempunyai sifat baru. Persilangan ini dapat dilakukan dengan bantuan zat kimia atau listrik.